![]() |
| Bukan melihat ke belakang, tapi berlari ke arah panggilan Tuhan |
Saat jarum jam menunjukkan akhir 2025 dan pintu 2026 mulai terbuka lebar, hati setiap orang percaya diajak untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan panjang yang telah ditempuh bersama Tuhan. Tahun yang baru saja berlalu mungkin penuh dengan suka duka—tantangan yang menguji keteguhan, berkat yang tak terhitung, dan pelajaran rohani yang membentuk karakter kita semakin serupa dengan Kristus. Dalam momen transisi ini, Alkitab memberikan panduan ilahi yang sempurna: menutup tahun dengan syukur yang mendalam, seperti yang diajarkan dalam Mazmur 103:2, di mana Daud memerintahkan jiwanya sendiri untuk memuji Tuhan dan tidak melupakan segala kebaikan-Nya. Ucapan Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan sikap hati yang membersihkan jiwa dari keluhan dan membuka ruang bagi berkat yang lebih besar.
1. Untuk Menutup Tahun dengan Syukur
Mazmur 103:2
"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya."
Ayat ini memanggil seluruh keberadaan kita untuk memuji Tuhan dan secara sadar mengingat setiap kebaikan-Nya. Syukur bukan sekadar kata yang terucap di bibir, melainkan sikap hati yang lahir dari kesadaran mendalam akan anugerah Tuhan—baik yang nyata terlihat maupun yang sering luput kita sadari—yang telah menyertai perjalanan hidup kita sepanjang tahun.
Mazmur 103:2 mengajak kita untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, lalu menoleh ke belakang untuk mengenang kesetiaan Tuhan. Menutup tahun bukan terutama tentang menghitung keberhasilan atau kegagalan, melainkan tentang mengakui pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berhenti menopang kita. Banyak hal mungkin tidak berjalan sesuai rencana kita, namun tangan Tuhan tetap bekerja—memberi kekuatan saat kita lemah, penghiburan saat hati terluka, dan harapan ketika kita hampir menyerah.
Syukur yang sejati lahir dari hati yang mau mengingat, bukan melupakan. Ketika kita memilih untuk mengingat kebaikan Tuhan, hati kita dijauhkan dari keluhan dan dipenuhi oleh damai sejahtera. Sering kali kita lebih mudah mengingat doa-doa yang belum terjawab daripada ribuan perlindungan dan berkat yang Tuhan berikan setiap hari, bahkan tanpa kita sadari.
Menutup tahun bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen rohani untuk melakukan “inventarisasi iman.” Pemazmur berbicara kepada jiwanya sendiri—pikiran, perasaan, dan kehendaknya—agar secara aktif mengakui dan mensyukuri setiap karya Tuhan. Ini bukan hanya tentang mengingat peristiwa besar, tetapi juga menghargai hal-hal kecil: napas kehidupan, perlindungan di perjalanan, kekuatan untuk bertahan, dan kasih Tuhan yang setia setiap saat.
Dalam konteks menutup tahun, ayat ini menasihati kita untuk mengakhiri waktu yang telah berlalu dengan hati yang penuh ucapan syukur. Sikap inilah yang menjadi fondasi rohani yang kuat untuk melangkah ke tahun yang baru, karena melalui syukur kita diingatkan kembali bahwa Allah yang setia di masa lalu adalah Allah yang sama yang akan memimpin langkah kita ke depan—selalu baik dan tidak pernah berubah.
2. Melangkah ke Depan dengan Iman: Melihat yang Tak Kelihatan
Ibrani 11:1
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
Membuka tahun yang baru berarti melangkah ke wilayah yang belum dipetakan. Masa depan belum terlihat, tantangan belum diketahui, dan banyak hal masih terselubung oleh ketidakpastian. Namun iman menolong kita melangkah dengan tenang, bukan karena kita memahami segalanya, melainkan karena kita percaya kepada Dia yang telah lebih dahulu berada di masa depan.
Ibrani 11:1 memberikan definisi iman yang mendalam dan kokoh. Iman bukanlah optimisme kosong atau keyakinan buta, melainkan keyakinan yang berdasar pada janji dan karakter Allah. Iman menjadi dasar—fondasi yang meneguhkan harapan kita, terutama ketika harapan itu melampaui kemampuan dan penglihatan manusia. Apa yang kita harapkan tidak berdiri di atas perasaan atau situasi, tetapi di atas kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah.
Lebih dari itu, iman disebut sebagai bukti dari hal-hal yang tidak terlihat. Artinya, iman memungkinkan kita memandang janji Tuhan sebagai sesuatu yang nyata, meskipun belum terwujud secara kasat mata. Iman memberi kepastian batin bahwa apa yang Tuhan firmankan pasti akan digenapi, walaupun jalan menuju penggenapannya belum jelas bagi kita.
Memasuki tahun yang baru berarti menghadapi ketidakpastian, namun iman menghadirkan kepastian di tengah ketidakpastian itu. Ketika mata jasmani tidak melihat jalan, iman menguatkan hati untuk tetap melangkah. Ketika rencana manusia terbatas, iman mengarahkan pandangan kita kepada Allah yang memegang kendali penuh atas masa depan.
Dengan iman, kita tidak melangkah sendirian. Kita berjalan bersama Tuhan yang setia, yang menuntun langkah demi langkah sesuai dengan waktu-Nya. Oleh karena itu, membuka tahun yang baru dengan iman berarti memilih untuk percaya—bukan pada keadaan, tetapi pada Allah yang berdaulat. Iman inilah yang menolong kita melangkah maju dengan keberanian, pengharapan, dan ketenangan, sambil memandang kepada Tuhan yang setia menyertai kita, hari ini dan seterusnya.
3. Meninggalkan Masa Lalu dan Mengejar Panggilan Surgawi
Filipi 3:13b-14
"Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."
Rasul Paulus mengajarkan sikap rohani yang sehat dan dewasa: tidak terikat pada masa lalu. Baik kegagalan yang melukai, kesalahan yang memalukan, maupun keberhasilan yang membanggakan, semuanya tidak boleh menjadi penghalang bagi pertumbuhan rohani. Tuhan tidak memanggil kita untuk tinggal di belakang, melainkan untuk terus maju, mengejar kehendak-Nya, dan hidup sesuai dengan tujuan surgawi yang telah Ia tetapkan.
Memasuki tahun yang baru adalah kesempatan baru untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan dan semakin setia dalam panggilan-Nya. Menutup tahun berarti belajar “melupakan apa yang di belakang”—bukan dengan menghapus ingatan, tetapi dengan melepaskan beban yang mengikat hati. Kegagalan tidak lagi menghantui, dan keberhasilan tidak lagi membuat kita lengah atau sombong. Semua kita serahkan di bawah kasih karunia Tuhan.
Paulus menggunakan gambaran seorang pelari dalam perlombaan iman. Seorang pelari yang ingin menang tidak menoleh ke belakang, melainkan memusatkan pandangan ke depan. “Mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” berarti hidup dengan fokus rohani yang jelas, tidak teralihkan oleh penyesalan masa lalu atau rasa aman palsu dari pencapaian sebelumnya. Tujuan utama bukanlah sukses duniawi, melainkan “panggilan surgawi”—hidup yang semakin serupa dengan Kristus dan bertumbuh menuju kedewasaan rohani.
Ungkapan “berlari-lari kepada tujuan” menunjukkan kesungguhan, ketekunan, dan komitmen. Perjalanan iman bukanlah jalan yang pasif, melainkan panggilan untuk terus bergerak maju bersama Tuhan, meskipun ada rintangan dan tantangan. Dengan iman dan pengharapan, kita melangkah ke depan, percaya bahwa Tuhan yang memanggil kita juga setia menuntun dan memampukan kita.
Ayat ini sangat relevan ketika kita membuka lembaran tahun yang baru. Tuhan mengajak kita untuk tidak terpaku pada apa yang telah lewat, tetapi menetapkan pandangan pada tujuan kekal yang lebih tinggi. Dengan hati yang dilepaskan dari masa lalu dan mata yang tertuju kepada Kristus, kita dapat melangkah maju dengan keyakinan, mengejar panggilan surgawi yang Tuhan sediakan bagi setiap kita.
Baca juga:
Kesabaran-sebagai-kekuatan-roh
Menerapkan-kasih-dan-pengampunan
Ilustrasi
Seorang pejalan kaki yang menyeberangi jembatan gantung tidak akan sampai ke tujuan jika ia terus menoleh ke belakang karena takut. Ia harus melangkah maju dengan percaya bahwa jembatan itu akan menopangnya. Demikian pula kehidupan iman kita: ucapan syukur menolong kita berdiri teguh, iman menolong kita melangkah, dan fokus ke depan menolong kita sampai pada tujuan Allah.
Refleksi
Saat menutup dan membuka lembaran waktu, kita diajak Tuhan untuk jujur melihat ke dalam hati. Apakah kita masih membawa beban masa lalu—penyesalan, kegagalan, luka, atau bahkan kebanggaan atas pencapaian yang telah lewat? Semua itu, jika tidak dilepaskan, dapat memperlambat langkah kita dalam perlombaan iman.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup Kristen adalah perjalanan yang terus bergerak maju. Kita belajar dari masa lalu, tetapi tidak hidup di dalamnya. Tuhan memanggil kita untuk menatap ke depan, kepada tujuan yang lebih tinggi, yaitu panggilan surgawi di dalam Kristus Yesus. Ketika kita memilih untuk percaya dan taat, Tuhan memberi kekuatan baru untuk melangkah, meskipun jalannya belum sepenuhnya terlihat.
Kutipan Roh Nubuat
"Dalam memandang kembali sejarah masa lalu kita, setelah menempuh setiap langkah kemajuan sampai kepada keadaan kita sekarang ini, saya dapat mengatakan, Terujilah Allah! Sedang saya memandang dengan penuh kekaguman atas apa yang telah dilaksanakan Tuhan, saya dipenuhi dengan rasa syukur, dan keyakinan akan Kristus sebagai pemimpin. Kita tidak perlu merasa gentar terhadap masa depan, kecuali jika kita melupakan cara Tuhan memimpin kita, dan pengajaran-Nya dalam sejarah masa lalu kita." — (Life Sketches, hlm. 196)
Kesimpulan
Menutup tahun 2025 dengan ucapan syukur menolong kita melihat tangan Tuhan dalam setiap musim kehidupan. Membuka tahun 2026 dengan iman menolong kita melangkah dengan keberanian dan pengharapan. Dengan meninggalkan masa lalu dan mengejar panggilan surgawi, kita hidup bukan untuk dunia ini saja, tetapi untuk kemuliaan Allah. Dengan demikian, kita tidak hanya menutup tahun dengan hati yang damai, tapi juga membuka tahun baru dengan harapan dan tujuan yang jelas.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas setiap penyertaan-Mu sepanjang tahun yang telah kami lewati. Ajari kami untuk tidak melupakan segala kebaikan-Mu. Saat kami melangkah ke tahun yang baru, penuhilah hati kami dengan iman yang teguh, keberanian untuk melangkah, dan kerinduan untuk hidup sesuai kehendak-Mu. Tolong kami meninggalkan masa lalu dan mengejar panggilan surgawi di dalam Kristus Yesus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Baca juga:
Rancangan-Allah-penuh-pengharapan
